Selasa, 23 November 2010

studi masyarakat sebagai media pendidikan

STUDY MASYARAKAT SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN


PENDAHULUAN


Dalam pendidikan, proses pembelajaran aktif sangat diperlukan supaya peserta didik dapat mencapai tujuan belajar secara optimal. Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu setiap individu yang terkait dalam pendidikan dituntut berperan secara maksimal guna meningkatkan kualitas pendidikan. Namun pada pelaksanaannya pendidikam selama ini lebih banyak hanya mengutamakan aspek kognitif saja, sedangkan aspek afektif dan psikomotorik sering disisihkan, diremehkan atau bahkan dilupakan. Padahal anak didik yang hanya berbekal ilmu saja (kognitif) tanpa adanya skill yang memadahi kemungkinan besar akan membuat anak didik menjadi lingling tanpa tahu apa yang harus mereka lakukan ditengah-tengah masyarakat. Karena masyakat akan menilai anak tersebut mampu atau tidaknya bergerak dalam realitas masyarakat, bukan hanya pengetahuan atau sekedar tahu tapi kemampuan dalam bertindak dalam hegemoni masyarakat.


Melihat kondisi yang seperti ini, maka peran mayarakat sebagai media pendidikan sangatlah diperlukan yang berguna membekali peserta didik siap menghadapi lingkungannya dan tidak buta akan perkembangan lingkungannya.


PERMASALAHAN


Bagaimankah definisi dan ruang lingkup study masyarakat?


Sebutkan macam-macam study masyarakat dan pengaplikasiannya?


Apa pengaruh sekolah terhadap masayarakat?


Apa pengaruh masyarakat terhadap sekolah?






PEMBAHASAN


Definisi Dan Ruang Lingkup Study Masyarakat


Study berasal dari bahasa inggris yang berarti belajar, sedangkan student berarti orang yang belajar. Sedangakan masyarakat berasal dari bahasa arab, yang secara harfiyah berarti pergaulan.1


Menurut Selo Sumardjan masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan. Sedangkan menurut Karl Marx masyarakat adalah suatu struktur yang menderita suatu ketegangan organisasi atau perkembangan akibat adanya pertentangan antara kelompok-kelompok yang terbagi secara ekonomi. Menurut Emile Durkheim masyarakat merupakan suau kenyataan objektif pribadi-pribadi yang merupakan anggotanya. Menurut Paul B. Horton & C. Hunt masyarakat merupakan kumpulan manusia yang relatif mandiri, hidup bersama-sama dalam waktu yang cukup lama, tinggal di suatu wilayah tertentu, mempunyai kebudayaan sama serta melakukan sebagian besar kegiatan di dalam kelompok / kumpulan manusia tersebut.2 Jadi masyarakat adalah sekumpulan orang yang berada disuatu tempat dan menetap di daerah itu serta saling mengadakan interaksi dengan satu sama lainnya.


Jadi studi masyarakat adalah nelajar tentang situasi, prilaku yang ada di sekitar kita untuk dijadikan sebagai latihan dan pengalamansupaya dapat menjadi bekal hidup diripada peserta didik di kemudian hari.


Pendidikan masyarakat adalah pendidikan yang ditujukan kepada orang dewasa termasuk pemuda diluar batas umur tertinggi kewajiban belajar dan dilakukan diluar lingkungan dan pengajaran sekolah dasar. Oleh karenanya bila studi masayarakat itu yang belajar adalah siswa dengan media masayarakat maka dalam pendidikan masyaarakt yang belajar adalah masyarakat itu sendiri( diberi bimbingan dan pengarahan tentang sesuatu).


Sekolah harus pandai memilah mana yang akan dijadikan sebagai lahan study dan mana yang cocok dengan kompetisi anak didik mereka itu. Misalnya, jika kita memilih untuk melakukakan survei maka siswa dapat wawancara langsung dengan masyarakat yang dikunjungi sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan dan survei tersebut harus ditujukan pada golongan masyarakat yang relevan dengan kajian pendidikan mereka. Berkenaan dengan ruang lingkup pemabahsan mengenai studi masayarakat ini, ruang lingkup studi masayarakat disini meliputi definisi, metode-metode yang digunakan, aplikasi dan pemanfaatannya.3


Macam-Macam Study Masyarat Dan Aplikasiannya


Dalam studi masyarakat tentunya akan menjumpai beberapa macam-macam model atau metode tentang studi masyarakat yang sering dijumpai di lingkungan sekitar kita antara lain:


keluarga


Dimanapun juga didunia ini, keluarga merupakan masyarakat pendidikan pertama yang menyediakan kebutuhan biologis dari anak dan sekaligus memberikan pendidikannya, sehingga menghasilkan pribadi-pribadi yang dapat hidup dalam masyarakatnya sambil menerima dan mengolah serta mewariskan kebudayaannya.


Keluarga merupakan masyarakat pendidikan pertama dan yang bersifat alamiah. Dalam lingkungan keluarganya dipersiapkan anak menjalani tingktan-tingkatan perkembangannya untuk memasuki dunia orang dewasa dalam bahasa, adat istiadat dan seluruh isi kebudayaannya. Ibu dan bapak saling melengkapi isi mengisi dalam menerima dan mengolah proses pembudayaan itu agar si anak tidak canggung ketika berhadapan langsung dengan lingkungan disekitarnya.


Keluarga adalah sebagai faktor dalam pembentukan pribadi, menurut Henkie dalam bukunya keluarga yang sekarang” faktor keluarga adalah sebagai dasar pembentukan pribadi anak yang benar-benar harmonis. Kendali seorang anak berasal dari keluarga, keluarga merupakan suatu basis yang maha penting dalam menanggulangi kenakalan si anak. Sedang sekolah hanya sekedar aktor penunjang, jangan terlalu banyak berharap dari sekolah sebelum dasar ini kukuh ditanamkan4.


berkemah


berkemah adalah termasuk kegiatan sekolah. Program ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan siswa dalam mengikuti perkembangan masyarakat yang berubah sevara cepat. Berkemah akan mengembangkan pemahaman atas benda-benda, peristiwa-peristiwa, lingkungan sosial dan lingkungan alam yang realitis dan kongrit. Berkemah bisa dilakukan selama 1 hari, 2 hari, 3 hari atau bahkan seminggu dan pelaksanannya biasa dilakukan pada hari libur( diluar jam sekolah).


Dalam perkemahan ini siswa dilatih kemandirian, kreatif, kedisiplinan, kekuatan fisik, keberanian dan lain-lain. Seperti memasak, membuat rumah dari tenda, mencari jejak, menelusuri hutan, bakti sosial, bermain tali temali, permaianan sandi dan sebagainya, yang kesemuanya itu melatih siswa untuk belajar senang dan semangat.5


Suatu keberhasilan yang sangat memuaskan apabila seorang siswa dapat memotivasi dan menemukan jati diri serta belajar menanggapi lingkungan disekitarnya. Sebab diperkemahan ini semua kurikulum secara harmonis merupakan kombinasi dari 3 unsur, ketrampilan, akademis prestasi fisik dan ketrampilan hidup. Berkemah pada dasarnya melatih seorang siswa bagaimana hidup mandiri dan bersosialisasi ditengah-tengah masyarakat.


pesantren


Istilah pesantren berasal dari kata pe-santri-an, dimana kata "santri" berarti murid dalam Bahasa Jawa. Istilah pondok berasal dari Bahasa Arab funduuq (فندوق) yang berarti penginapan. Khusus di Aceh, pesantren disebut juga dengan nama dayah. Biasanya pesantren dipimpin oleh seorang Kyai. Untuk mengatur kehidupan pondok pesantren, kyai menunjuk seorang santri senior untuk mengatur adik-adik kelasnya, mereka biasanya disebut lurah pondok. Tujuan para santri dipisahkan dari orang tua dan keluarga mereka adalah agar mereka belajar hidup mandiri dan sekaligus dapat meningkatkan hubungan dengan kyai dan juga Tuhan.


Pendapat lainnya, pesantren berasal dari kata santri yang dapat diartikan tempat santri. Kata santri berasal dari kata Cantrik (bahasa Sansakerta, atau mungkin Jawa) yang berarti orang yang selalu mengikuti guru, yang kemudian dikembangkan oleh Perguruan Taman Siswa dalam sistem asrama yang disebut Pawiyatan. Istilah santri juga dalam ada dalam bahasa Tamil, yang berarti guru mengaji, sedang C. C Berg berpendapat bahwa istilah tersebut berasal dari istilah shastri, yang dalam bahasa India berarti orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu atau seorang sarjana ahli kitab suci agama Hindu Terkadang juga dianggap sebagai gabungan kata saint (manusia baik) dengan suku kata tra (suka menolong), sehingga kata pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia baik-baik.6


Pesantren pada mulanya merupakan pusat penggemblengan nilai-nilai dan penyiaran agama Islam. Namun, dalam perkembangannya, lembaga ini semakin memperlebar wilayah garapannya yang tidak melulu mengakselerasikan mobilitas vertical (dengan penjejelan materi-materi keagamaan), tetapi juga mobilitas horizontal (kesadaran sosial). Pesantren kini tidak lagi berkutat pada kurikulum yang berbasis keagamaan (regional-based curriculum) dan cenderung melangit, tetapi juga kurikulum yang menyentuh persoalan kikian masyarakat (society-based curriculum). Dengan demikian, pesantren tidak bisa lagi didakwa semata-mata sebagai lembaga keagamaan murni, tetapi juga (seharusnya) menjadi lembaga sosial yang hidup yang terus merespons carut marut persoalan masyarakat di sekitarnya.7


Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tertua yang merupakan produk budaya Indonesia. Keberadaan Pesantren di Indonesia dimulai sejak Islam masuk negeri ini dengan mengadopsi sistem pendidikan keagamaan yang sebenarnya telah lama berkembang sebelum kedatangan Islam. Sebagai lembaga pendidikan yang telah lama berurat akar di negeri ini, pondok pesantren diakui memiliki andil yang sangat besar terhadap perjalanan sejarah bangsa.8


karya wisata


karya wisata atau field trip dalam pengetahuan pendidikan adalah kunjungan siswa keluar sekolah untuk mempelajari obyek tertentu sebagai bagian integral dari kurikulum disekolah atau dengan kata lain bahwa karya wisata adalah suatu kunjungan keseuatu tempat diluar kelas yang dilaksanakan sebagai integral dari seluruh kegiatan akademis dan terutama dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.


Karyawisata pada umumnya didorong oleh motivasi: menjadi keterangan tentang hal tertentu, melatih sikap anak, membangkitkan minat anak, mengembangkan apresiasi, menikmati serta pengalaman-pengalaman baru.


Contoh aplikasi karyawisata yang berhubungan dengan pendidikan adalah:


mempelajari proses sosial, berpartisipasi dalam masyarakat, ikut serta dalam kehidupan, turut memlihara kesehatan, menikmati keindahan alam dan sebagainya.


Mempelajari masalah sosial, keluarga, hubungan antar kelompok, kesejahteraan rang tua dan lain-lain.


Berguna bagi lapangan akademik, kesenian, ilmu bumi, sejarah dan sebagainya.


Jadi, Karyawisata adalah kegiatan pendidikan yang realistis dan bermanfaat untuk memperoleh pengalaman langsung. Sedangkan manfaat yang dapat dipetik adalah: mendorong belajar dengan pengamatan sendiri terhadap benda, memberikan pemahaman (insight) terhadap lingkungan terdekat, mengadakan integrasi pelajaran dikelas dengan realitas dimasyarakat, memotivasi untuk melakukan penyelidikan dan penemuan baru, mengajarkan kebersamaan, memupuk dan menanamkan cinta pada alam sekitarnya dan lain-lain9.


Outbound


Outbound adalah kegiatan di alam terbuka. Outbound juga dapat memacu semangat belajar. Outbound merupakan sarana penambah wawasan pengetahuan yang didapat dari serangkaian pengalaman berpetualang sehingga dapat memacu semangat dan kreativitas seseorang. Oleh karena itu, Kimpraswil menyatakan bahwa outbound adalah usaha olah diri (olah pikir dan olah fisik) yang sangat bermanfaat bagi peningkatan dan pengembangan motivasi, kinerja dan prestasi dalam rangka melaksanakan tugas dan kepentingan organisasi secara lebih baik lagi.


Kegiatan outbound berawal dari sebuah pengalaman sederhana seperti bermain. Bermain juga membuat setiap anak merasa senang, dan bahagia. Dengan bermain anak dapat belajar menggali dan mengembangkan potensi, dan rasa ingin tahu serta meningkatkan rasa percaya dirinya. Oleh karena itu, bermain merupakan fitrah yang dialami setiap anak.


Pengalaman merupakan guru dalam proses pembelajaran secara alami. Misalnya, seorang anak mengalami proses alami bermain. Hal itu dalam rangka menambah dan mengembangkan pengetahuan dari setiap pengalamannya. Jadi, tidak menutup kemungkinan siapapun berhak bermain baik anak-anak, remaja, orang dewasa ataupun orang tua. Karena belajar dari sebuah pengalaman dalam aktivitas bermain dijadikan sebagai sarana pembelajaran yang menyenangkan yang dapat dilakukan di ruangan terbuka atau tertutup.


Berdasarkan latar belakang tersebut outbound merupakan perpaduan antara permainan-permainan sederhana, permainan ketangkasan, dan olah raga, serta diisi dengan petualangan-petualangan. Hal itu yang akhirnya membentuk adanya unsur-unsur ketangkasan, dan kebersamaan serta keberanian dalam memecahkan masalah. Seperti halnya Iwan menegaskan bahwa “permainan yang disajikan dalam outbound memang telah disusun sedemikian rupa, sehingga bukan hanya psikomotorik (fisik) peserta yang ’tersentuh’ tapi juga afeksi (emosi) dan kognisi (kemampuan berpikir0.10


kerja pengalaman


kerja pengalaman atau kerja lapangan ini memungkinkan siswa memperoleh pengalaman praktis sebagai persiapan untuk hidup didalam masayarakat kelas. Kerja pengalaman bermaksud untuk memberikan kesempatan kepada siswa melakukan aktifitas dalam kondisi aktual atau dengan kata lain kerja lapangan atau praktek lapangan dilakukan oleh para siswa untuk memperoleh ketrampilan dan kecakapan khusus. Misalnya, siswa SMK yang dikirimkan keperusahaan-perusahaan untuk mempelajari dan mempraktekkan pembukuan, akutansi, daln lain-lain.


Hal ini ada relevansinya dengan konsep atau gaya belajar model Kolb. Menurut model ini belajar itu berlangsung 4 fase atau tahapan:


individu memperoleh pengalaman langsung dan konkrit


mengembangkan observasinya dan memikirkan atau merefleksikannya


dari itu dibentuk generasi dan abstraksi


implikasi yang diambil dari konsep dan itu dijadikan sebagai pengalamannya dalam menghadapi pengalaman-pengalaman baru


studi masayarakat adalah belajar tentang situasi, prilaku maupun sistem sosial yang ada dilingkungan kita untuk dijadikan sebagai latihan dan pengalaman supaya dijadikan bekal hidup diri siswa kelak. Disamping pengetahuan dan pengalaman yang didapat daria bangku sekolah. Dalam hal ini msayarakat masuk dan dibawa kesekolah maupun kesekolah dibawa kedalam masayarakat. Artinya sekolah bisa mendatangkan nara sumber kesekolah untuk kajian dan dapat pula msayarakat di kunjungi dan ditemapti para siswa sebagai ajang pelatihan, praktek maupn pengalaman dan pengamatan11


Seminar


Seminar merupakan suatu pembahasan masalah secara ilmiah, walaupun topik yang dibahas adalah masalah sehari-hari. Dalam membahas masalah, tujuannya adalah mencari suatu pemecahan, oleh karena itu suatu seminar selalu diakhiri dengan kesimpulan atau keputusan-keputusan yang merupakan hasil pendapat bersama, yang kadang-kadang diikuti dengan resolusi atau rekomendasi.


Pembahasan dalam seminar berpangkal pada makalah atau kertas kerja yang telah disusun sebelumnya oleh beberapa orang pembicara sesuai dengan pokok-pokok bahasan yang diminta oleh sesuatu panitia penyelenggara. Pokok-pokok bahasan yang diminta oleh suatu penitia penyelenggara. Pokok bahasan yang telah ditentukan, akan dibahas secara teoritis dan dibagi menjadi beberapa subpokok bahasan bila masalahnya sangat luas. Pada awal seminar, dapat dibuka dengan suatu pandangan umum oleh orang berwenang (yang ditunjuk panitia) sehingga tujuan seminar terarah. Kemudian hadirin (massa) dibagi menjadi beberapa kelompok untuk membahas permasalahan lebih lanjut. Tiap kelompok dapat diserahi tugas membahas suatu sub pokok bahasan untuk dibahas dalam kelompok yang biasanya juga disebut seksi/komisi, di bawah pimpinan seorang ketua komisi (kelompok). Dari hasil-hasil kelompok, disusun suatu perumusan yang merupakan suatu kesimpulan yang dirumuskan oleh suatu tim perumus yang ditunjuk.


Pembahasan dalam seminar memakan waktu yang lebih lama karena sifatnya yang ilmiah. Apabila para pembicara tidak dapat mengendalikan diri biasanya waktu banyak dipergunakan untuk pembahasan yang kurang penting. Oleh karena itu dibutuhkan pimpinan kelompok yang menguasai persoalan sehingga penyimpangan dari pokok persoalan dapat dicegah. Penyimpangan ini dapat diatasi bila setiap kali ketua sidang menyimpulkan hasil pembicaraan sehingga apa yang akan dibicarakan selanjutnya sudah terarah.12


Pengaruh Sekolah Terhadap Masayarakat


Pengaruh sekolah terhadap msayarakat pada dasarya tergantung kepada luas tidaknya produk serta kualitas dari produk sekolah itu sendiri semakin luas sebaran produk sekoalh ditengah-tengah masayarakat, lebih-lebih bila diikuti kulaitas yang memadai tentu prosuk persekolahan tersebut membawa pengaruh postif dan berarti bagi perkembangan masyarakat. Dalam hubungan ini sekolah bisa disebut sebagai lembaga investasi manusiawi. Investasi manusiawi sangat penting bagi perkembangan dan kemajuan masayarakat sebab manusia itu sendirilah subyek setiap perkembangan perubahan dan kemajuan didalam masyarakat. Beberapa pengaruh sekolah terhadap msyarakat diantaranya adalah tingkat kecerdasan masyarakat dapat dikembangkan melalui program pendidikan disekolah, pertumbuhan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang didalam suatu masyarakat tidak akan terlepas dari yang namanya pendidikan.13


Pengaruh masayarakat terhadap sekolah


Masyarakat bertumbuh dan berkembang, masyarakat memiliki dinamika. Disamping itu, setiap masyarakat memiliki identitas sendiri sesuai dengan pengalaman kesejahteraan dan budayanya. Pengaruh pertama masyarakat terhadap sekolah adalah identitas suatu masyarakat dan dinamikanya senantiasa membawa pengaruh terhadap orientasi dan tujuan pendidikan pada lembaga persekolahan ini, ini bisa dimengerti karena sekolah merupakan institusi yang dilahirkan dari, oleh dan untuk masyarakat. Dimana berlangsungnya proses pendidikan disekolah juga tidak terlepas dari pengaruh masyarakat. Pengaruh masyarakat yang dimaksud yaitu, pengaaruh sosial budaya dan partisipasinya.14


Hal ini membuktikan saling terkaitannya antara masyarakat dengan sekolah atau adanya hubungan timbal balik antara sekolah dan masyarakat yang dimana akan menghasilkan atau membuat peserta didik yang siap dan terampil dalam menghadapi zaman yang semakin berkembang.






ANALISIS


Masyarakat bertumbuh dan berkembang, masyarakat memiliki dinamika. Disamping itu, setiap masyarakat memiliki identitas sendiri sesuai dengan pengalaman kesejahteraan dan budayanya masing-masing.


Study masyarakat sebagai media pendidikan pada dasarnya adalah metode pengajaran bagaimana tata cara berinteraksi di tengah-tengah masyarakat agar para peserta didik tidak canggung atau mati langkah ketika harus terjun di masyarakat, dengan metodi ini diharapkan paserta didik dapat berinteraksi dan beradaptasi di lingkungan masyarakat. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan pada umumnya yaitu proses memanusiakan manusia dimana dalam setiap zaman perubahan peradapan manusia terus berjalan dan berekembang. Oleh karena itu peran studi masyarakat sangatlah penting dan dibutuhkan oleh peserta didik karena dengan melakukan metode ini peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung di lapangan dan dapat mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Namun, pada realitanya sistem pembelajaran pada era sekarang ini kurang begitu memperhatikan tentang aspek psikomotor dan cenderung menganak tirikan aspek ini, padahal umtuk menghadapi dunia masyarakat saat tidak hanya aspek kognitif saja yang harus dikuasai.


Ketika siswa hanya dibekali aspek kognitif tanpa memperhatikan aspek psikomotor maka dapat dipastikan siswa akan menjadi linglung atau istilah jawanya “pakewoh”. Hal ini karena siswa tidak berani bertindak atau tidak tahu apa yang harus dilakukannya karena mereka tidak punya skillnya atau siswa tersebut hanya tahu teorinya saja. Dengan demikian tujuan pendidikan tidak akan tercapai karena siswa tidak mampu berintersaksi di masyarakat yang disebabkan karena merekwa tidak pernah tahu praktek di lapangannya seperti apa dan mereka hanya berbekal teori.


Peranan masyarakat sebagai media pendidikan dapat di mulai dari masyarakat terkecil yaitu lingkungan keluargan keluarga mempunyai peranan penting dalam pengembangan pemasyarakatan karena keluarga merupakan masyarakat pertama yang akan dihadapi siswa atau anak. Oleh karena itu, keluarga mempunyai peranan vital dalam kehidupan anak, karena dalam proses perkembangannya menuju dewasa pasti tidak akan terlepas dari peran serta keluarga. Sehingga peranan keluarga dalam kaitannya masyarakat sebagai media pendidikan sangatlah penting.


Dalam kaitannya dengan studi masyarakat, masyarakat mempunyai dua fungsi yaitu masyarakat sebagai media pendidikan dan masyarakat sebagai sumber pendidikan. Masyarakat sebagai media pendidikan ketika masyarakat itu hanya sebagai penjelas dari apa yang telah disampaikan guru, contoh ketika siswa belajar whudu dan guru tersebut memberikan contoh dengan memperlihatkan bagaimana tata cara wudhu orang yang sedang berudhu di masjid atau musholla. Masyarakat sebagai sumber belajar ketika masyarakat itu menjadi acuan atau rujukan, contoh orang yang meneliti kebudayaan jawa dengan datang langsung di kampung jawa dan berinteraksi dengannya.


Jadi tidak dapat dipungkiri lagi studi masyarakat sebagai media pendidikan adalah suatu hal yang harus dilakukan dan dilaksanakan. Karena keberhasilan seorang perserta didik dalam menghadapi dunia bukan di ukur dari kemampun kognitifnya saja melainkan kemampuan bagaimana bradaptasi atau berinteraksi di tengah-tengah masyarakat.


Hal ini membuktikan saling terkaitannya antara masyarakat dengan sekolah atau adanya hubungan timbal balik antara sekolah dan masyarakat yang dimana akan menghasilkan atau membuat peserta didik yang siap dan terampil dalam menghadapi zaman yang semakin berkembang






KESIMPULAN


Study berasal dari bahasa inggris yang berarti belajar, sedangkan student berarti orang yang belajar. Sedangakan masyarakat berasal dari bahasa arab, yang secara harfiyah berarti pergaulan. Masyarakat adalah sekumpulan orang yang berada disuatu tempat dan menetap di daerah itu serta saling mengadakan interaksi dengan satu sama lainnya. Jadi studi masyarakat adalah belajar tentang situasi, prilaku yang ada di sekitar kita untuk dijadikan sebagai latihan dan pengalamansupaya dapat menjadi bekal hidup diripada peserta didik di kemudian hari. Pendidikan masyarakat adalah pendidikan yang ditujukan kepada orang dewasa termasuk pemuda diluar batas umur tertinggi kewajiban belajar dan dilakukan diluar lingkungan dan pengajaran sekolah dasar. Oleh karenanya bila studi masayarakat itu yang belajar adalah siswa dengan media masayarakat maka dalam pendidikan masyaarakt yang belajar adalah masyarakat itu sendiri( diberi bimbingan dan pengarahan tentang sesuatu). Ruang lingkup studi masayarakat disini meliputi definisi, metode-metode yang digunakan, aplikasi dan pemanfaatannya.


Dalam studi masyarakat tentunya akan menjumpai beberapa macam-macam model atau metode diantaranya: Keluarga, Berkemah, Pesantren, Karya Wisata, Outbound, Kerja Lapangan dan Seminar.


Pengaruh sekolah terhadap msyarakat diantaranya adalah tingkat kecerdasan masyarakat dapat dikembangkan melalui program pendidikan disekolah, pertumbuhan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang didalam suatu masyarakat tidak akan terlepas dari yang namanya pendidikan.


Pengaruh masyarakat terhadap sekolah adalah identitas suatu masyarakat dan dinamikanya senantiasa membwa pengaruh terhadap orientasi dan tujuan pendidikan pada lembaga persekolahan ini, ini bisa dimengerti karena sekolah merupakan institusi yang dilahirkan dari, oleh dan untuk masyarakat.






PENUTUP


Alhamdulillah kami panjatkan kepada Allah, yang telah memberikan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan waktu yng telah ditentukan. Harapan kami semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi saya sendiri dan para pembaca sekalian. Kami memohon maaf atas segala kekurangan yang terdapat dalam penulisan dalam materi yang disuguhkan dalam makalah ini. Terakhir kami sampaikan selamat membaca.










DAFTAR PUSTAKA






Fatah, H Rohadi Abdul, dkk, 2005. Rekontruksi Pesantren Masa Depan. Jakarta Utara: PT. Listafariska Putra


Haedari, H.Amin. 2007. Transformasi Peasntren. Jakarta: Media Nusantara


http://ferdy-pharm.blogspot.com/2010/01/perbedaan-seminar-simposium-diskusi.html/30-10-2010/15:30


http://organisasi.org/pengertian-masyarakat-unsur-dan-kriteria-masyarakat-dalam-kehidupan-sosial-antar-manusia/4/11/2010/13:47


http://widhoy.multiply.com/journal/item/15/1-11-2010/09:30


Mastuki, El-sha, M. Ishom. 2006. Intelektualisme Pesantren. Jakarta: Diva Pustaka


Said, H. Muhammad. 1989. Ilmu Pendidikan, , Bandung: PT. Alumni


Syam, Noor , dkk. 1981. Pengantar Dasar-dasar Pendidikan. Surabaya: Offset Printing,


Syukur, Fatah. 2008. Teknologi Pendidikan. Semarang : Rasail







1 Drs. Fatah Syukur, Teknologi Pendidikan,(Semarang : Rasail, 2008), hlm. 108


2http://organisasi.org/pengertian-masyarakat-unsur-dan-kriteria-masyarakat-dalam-kehidupan-sosial-antar-manusia/4/11/2010/13:47


3 Drs. Fatah syukur, Op. Cit, hlm. 109


4 Prof. Dr. H. Muhammad Said, ilmu pendidikan, ( bandung: alumni,1989), hlm. 121.


5 Drs. Fatah Syukur, Op. Cit, Hlm. 114.


6 H Rohadi Abdul Fatah, dkk, Rekontruksi Pesantren Masa Depan, (Jakarta Utara: PT. Listafariska Putra, 2005), hlm.11


7 HS, Mastuki, El-sha, M. Ishom. Intelektualisme Pesantren, (Jakarta: Diva Pustaka, 2006), hlm.1


8 H.Amin Haedari,. Transformasi Peasntren, (Jakarta: Media Nusantara, 2007), hlm.3


9 Fatah syukur,Op.Cit,hlm.111


10 http://widhoy.multiply.com/journal/item/15/1-11-2010/09:30


11 Drs. Fatah Syukur, Op. Cit, hlm. 115


12 http://ferdy-pharm.blogspot.com/2010/01/perbedaan-seminar-simposium-diskusi.html/30-10-2010/15:30


13 Drs. Noor Syam, dkk, Pengantar Dasar-dasar Pendidikan ( Surabaya: offset printing, 1981), hlm. 179


14 Ibid, hlm. 183

Kamis, 23 September 2010

pemanfaatan audio visual


I.             PENDAHULUAN
Teknologi pendidikan lebih merupakan suatu disiplin ilmu terapan yang berkembang oleh adanya kebutuhan dilapangan yaitu kebutuhan untuk belajar secara efektif, efisiens, luas, banyak, cepat dan sebagainya. Seperti halnya paada pengajaran bahasa arab dengan menggunakan tekhnologi audio visual yang mana merupakan cara memproduksi dan menyampaikan bahan dnegan menggunakan peralatan dan elektronik untuk menyajikan pesan-pesan audio dan visual.
Pengajaran bahasa arab dengan menggunakan media teknologi audio visual akan lebih memudahkan proses pengajaran, karena pengajaran akan lebih jelas dan dapat dipahami oleh peserta didik ketika dilengkapi dengan peralatan audio visual yang emmungkinkan dapat memproyeksikan gambar hidup, pemutaran kembali suara dan penayangan ini akan diperjelas lagi pemanfaatan audio visual pada penagjaran bahasa arab.
II.          PERMASALAHAN
1.      Pengertian media Audio Visual
2.      Pemanfaatan media audio visual
III.       PEMBAHASAN
A.     Pengertian media audio visual
Kata media berasal dari bahasa latinm medius yang secara harfiah berarti “tengah” “perantara” atau pengantar. Dalam bahasa arab pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan. Dari definisi-definisi tersebut diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian media merupakan suatu yang bersifat menyalurkan pesan dan dapat merangsang pikiran, perasaan dan penawaran audien (siswa) sehingga mendorong terjadinya proses belajar pada dirinya[1].
Sedangkan media audio berkaitan dengan indera pendengar, dimana pesan yang disampaikan dituangkan dalam lambing-lambang auditif, baik verbal( ke dalam kata-kata atau bahasa lisan) maupun non verbal[2]. Kemudian media visual merupakan media yang berfungsi untuk menyalurkan pesan dari sumber kepenerima pesan, dimana pesan  dituangkan melalui lambang atau simbol-simbol komunikais visual. Menurut Arief S. Sadiman 91986) symbol-simbol tersebut harus dipahami benar, artinya agar proses penyampaian pesan dapat berhasil dan efisiens. Selain fungsi umum tersebut secar khusus visual juga berfungsi pula untuk menarik perahtian, memperjelas sajian ide, mengilustrasikan atau menghiasai fakta yang mungkin akan cepat dilakukan[3].
B.     Pemanfaatan media audio visual dalam pengajaran bahasa arab
Media pendidikan dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang gilirannya diharapkan mempertinggi hasil belajar yang hendak dicapai. Ada beberapa alasan mengenai media pembelajaran berkenaan dapat mempertinggi proses belajar siswa, berkenaan tentang manfaat media pengajaran yaitu pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga adapt menumbuhkan motivasi belajar, bahkan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat dipahami dan dikuasai siswa, metode pengajaran akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal. Kemudian pengajaran dapat mempertinggi proses dan hasil belajar yang berkenaan dengan taraf piker siswa[4].
Adapun pemanfaatan media audio visual dalam pengajaran bahasa arab itu dikarenakan tidak semua berada atau kegiatan seseoramh yang diungkapkan dengan bahasa dapat diperlihatkan atau dilakukan didalam kelas, adanya daya tangkap dan daya ingat seseorang tidak semu, dan juga karena indra manusia saling mendorong satu sama lian dalam proses belajar, maka seornag guru yang menerangkan suatu benda atau melukiskan suatu kegiatan dengan alat-alat yang biasa dapat didengar atau dilihat, tidak seluruhnya tata bunyi bahasa arab yang dipelajari sama dengan bahsa pelajar yang tidak meungkin mengajarkan kemahiran berbahasa secara efisiens dalam suatu kelas yang jumlahnya pelajarnya banyak, bahkan akan melelahkan sekali bagi pengajar. Dengan demikian alat-alat audio visual sangat efektif dan efisien dalam membantu pelaksanaan pengajran kemahiran berbahsa disamping mengurangi kelebihan pengajar[5].
Mavam-macam alat Bantu audio visual sesuai dnegan namanya dibagi kepad 3 bagian yaituu (1). Alat peraga yuang bisa didengar, (2). Alat peraga yang bisa dilihat, (3). Alat peraga yang bisa dilihat dan didengar.
Selanjutnya uraian berikut ini mengandung petunjuk-petunjuk pemanfaataan penggunaan alat-alat audio, pemanfaatan alat-alat visual dan pemanfaatan alat-alat audio visual:
a.       Pemanfaatan penggunaan media audio dalam pengajaran bahasa
Prinsip pengertian bahsa sebgai alat komunikasi yang mempergunakan bunyi-bunyi bahasa, juga dapat dianggap sebagai pendorong waktu menggunakan alat-alat mekanik. Sebab menurut kenyataan bila seseornag mempelajari bahasa itu, kemahiran yang leih dahulu dipelajri adalah mendengar dan berbicara sebelum kemahiran membaca dan menulis. Oleh karena itu lat-alat yang dipergunakan untuk pengajaran bahasa arab dalam kemahiran berbicara dan mendengar sebagai berikut:
  1. Labolatorium bahasa
Labolatorium bahasa merupakan suatu alat bantudalam pengajaran bahasa arab. Dengan perkataan lain, ia tidak menggantikan fungsi guru. Oleh karena itu, pengajaran bahasa tetap dimulai didalam kelas, kemudian dikembangkan dan dipraktekan didalam labolatorium. Untuk labolatorium bahasa harus diseiakan ruangan tersendiri untuk maksud latihan-latihan bahasa. Penggunaan labolatorium didasarkan atas asumsi bahasa kemahiran mendengar dan berbicara dilakukan sebelum memberikan palajaran kemahiran membaca dan menulis. Jika dilakukan didalam kelas, kemahiran mendnegar dan berbicara sangat terbatas latihan-latihannya sehingga  untuk itu perlu dicarikan jalan lain, yaitu dengan jalan latihan-latiohan yang dilakukan dilabolatorium. Oleh karena itu, manfaat labolatoirum bahasa dapat disimpulkan sebgai berikut:
Ø              Efisiensi waktu,karena kesempatan latihan berbahsa dapat srempak dilakukan oleh setiap siswa pada wakltu yang sama tanpa menunggun giliran orang lain dalam latihan berbicara seperti jika dilakukan dikelas.
Ø              Labolatorium memungkinkan usatu latihan yang intensif dan efektif dari pada didalam kelas.rekaman-rekaman suara yang baik dan berbagai tingkatan dan jenis penutur asali dapat dipergunakan melalui labolatorium.
Ø              Hamper semua sasaran pokok dari tujuan pengajaran bahasa dapat dilakukan dilabolatorium[6].
Ø              Latihan-latihan labolatorium memungkinkan untuk segera mengadakan koreksi, baik koreksi yang dilakukan oleh siswa sendiri ataupun oleh guru terhadap siswa secara individual tanpa mengganggu siswa yang lainnya.
  1. Phonograph record
Penggunaan yang umum phonograph record adalah untuk mendengarkan lagu-lagu. Alat ini diciptakan lebih dahulu dari pada tape recorder, tapi keduanya hamper sama penggunaannya, yaitu:
    • Untuk menyanyikan lagu
    • Untuk menambah kosa kata/mufradat baru
    • Untuk suatu dialog yang akan dihafalkan
    • Apreasi karya-karya satra dalam bahasa arab
    • Untuk imla’
Manfaat menggunakan phonograph record disbanding dnegan program radio antara lain sebgai berikut:
    • Dapat dihentikan setiap waktu bila dianggap perlu, misalnya untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan, diskusi atau memberikan ulasan.
    • Bisa siulang kembali
    • Dapat diputar bila dianggap perlu sewaktu-waktu
    • Bahan pelajaran yang akan diberikan bisa didengarkan terlebih dahulu dan dievaluasi
    • Alat ini dapat digunakan untuk mengalihkan kembali siaran radio atau rekamn suara pelajar[7].
  1. Radio
Dewasa ini hamper setiap rumah memiliki pesawat radio. Oleh karena itu setiap program pengajaran melalui radio akan dapat dimanfaatkan oleh setiap orang yang berminat untuk mengikutinya. Satu hal yang sangat menggembirakan dewasa ini adalah semakin banyak radio amatir khusunya yang bisa diasah oleh universitas dan lembaga pendidikan lainnya, sehingga program pengajaran melalui radio ini dapat membantu peminat-peminat pelajaran bahasa. Pengajaran bahasa arab melalui radio dapat pula berupa dialog, lagu,lagu, sandiwara radio, siaran soal-soal kebudayaan dan pembacaan syair.
  1. Tape recorder
Alat ini merupakan alat yang efektif untuk pengajaran bahasa arab. Banyak bahan-bahan lkuliah yang akan bisa direkam dan dimanfaatkan sebagai refrensi. Adapun penggunaan tape recorder untuk kelebihan-kelebihan sebagai berikut:
Ø      Mendengar dan mengulang
Ø      Latihan-latihan percakapan
Ø      Latihan menyimak
Ø      Pemahaman dengan pendengaran
Ø      Dikte (imla)
Ø      Karangan lisan, latihan-latihan yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan pelajar dalam mengutarakan fikiran dan perasaannya secra lisan[8].
b.      Pemanfaatan visual dalam pembelajaran bahasa
Sebagaimana halnya media yang lainnya media visual berfungsi ubtuk menyalurkan pesan daari sumber penerima pesan. Saluran yang dipakai untuk menyangkut indera penglihatan. Pesan yang akan disampaikan dituangkan kedalam symbol-simbol komunikasi disimbol-simbol tersebut perlu dipahami benar artinya agar proses penyampain pesan dapt berhasil efoisisen., selain derhana dan mudah pembuatannya media visual termasuk media yang relative murah ditinjau dari segi biaya[9].
Keterangan berikut ini adalah mengenai cara-cara penggunaan sebagian alat-alat visual yang menganngap perlu untuk digunakan dalam pelajaran bahasa arab diantaranya yaitu:
  1. Gambar-gambar
Kata gambar mencakup segala macam lukisan untuk suatu penyajian pengajaran bahasa. Biasanya lukisan yang dipakai dalam text book sebgai ilustrasi tidak diperlukan lukisan yang indah. Gamnar yang indah belum tentu menjamin dapat membantu dalam memahami bahsa berupa gambar-gambar yang terdiri dari garis-garis belaka. Lukisan yang indah baru diperlukan untukk pelajaran-pelajaran yang mengenai kebudayaan. Untuk memperoleh gambar-gambar yang indah biasanga dengan menggunting gambar-gambar yang terdapat pada majalah, surat-surat kabar dan buku-buku.
  1. Flash card
Alat ini dapat dibuat dari karton dengan ukuran 18x16 inci. Pada flsh card terdapat ganmbar, kata-kata sebuah ungkapan atau kalimat yang biasa dipaki dnegan falsh card adlaah topic-topik yang mengenai alat-alat rumah tangga , binatang, buah-buahan, pakaian dan anggota keluarga dan sebagainya. Kartu-kartu hendaknya disimpan sesuai dengan kelompoknya agar dapat dipergunakan dimana perlu untuk ulangan, latihan dan sebagai titik pelajaran  selanjutnya.
Latihan-latihan yang perlu dipergunakan dengan gflash card yaitu:
    • Kosakata yaitu kata arab disatu sisi dan tejemahannya disisi lainnya, atau hanya gambar saja, dan sisw amampu mengucapkan kata, ungkapan atau kalimat mengenai gambar tersebut
    • Bentuk kata kerja yang dapat dikaitkan dengan latihan menyempurnakan kalimat
    • Kata benda mufradat, mutsanna  dan jama’, Mudzakar/ muanast
    • Preposisi yang tepat untuk suatu kalimat.
  1. Flannel board
Sesuai dengan namanya alat ini dibuat dari kata flanned yang berwarna hitam atau biru dipasang didinding atau digantung pada dua buah kayu bagian atas dan dibagian bawah. Gambar-gambar yang akan dipasang pada kain flannel, bagian belakangnya diberi zat yang berfungsi perekat. Dlaam pelajaran bahasa kain flannel dapat dipergunakan dengan baik sekali untuk meningkatkan kosa kata.
c.       Pemanfaatan audio visual dalam pembelajaran bahasa
Gambar hidup ( motion pictures) suatu alat yang sangat popular ini untuk pengajaran ilmu pengetahuan. Home economics, dan ketrampiilan, ialah gambar yang sering disebyt film. Oleh karena ini film juga berfungsi menghibur, maka ia kana menjadi alat yang sangat menarik sekali baik bagi anak-anak maupun bagi orang yang telah dewasa. Manfaat film dlam pengajaran bahasa yaitu:
Ø      Menarik perhatian karena dapat di lihat dan di dengar.
Ø      Gerakan, suara, dan adakalanya warna akan lebih meningkatkan kenyataan.
Ø      Film memperluas pandangan pelajaran, ia melebihi buku-buku dalam memberikan gambaran suatu peristiwa.
Ø      Film memberikan pengalaman yang lebih besar kepada sesama belajar[10].

IV.        KESIMPULAN
Media audio visual nerupakan suatu yang bersifat mengalirkan pesan dan dapat merangsang pikiran, persaan dan kemahiran para siswa baik melalui pesan yang ditunjukkan dalam lambing-lambang auditii maupun dalam melalaui lambing atau symbol komukasi siswa.
Macam-macam alat abantu audio visual sesu dengan namnya dibagi menajdi 3 bagian yaitu alat perga yang bisa didengar, alat peraga yang bisa didilihat dan aalat peraga yang bisa dilihat dan didengar.
Adapun macamnya pemanfaatan media audio yaitu seperti adanya labolatorium bahasa, phonohgraph record, radio, dan tape record. Kemudian pada pemanfaatannya media visual itu seperti adanya gambar-gambar, flash card dan flannel board. Ddan pada media audio visual yaitu seperti film yang kesemuannya itu dapat digunakan dalam pengajaran bahasa arab.

V.           PENUTUP
Demikianlah makalah yang saya buat apabila terdapat kesalahan dalam penulisan makalah ini, saya mohon maaf yang sebesar-bearnya dan kami juga mengahrapkan kritik dan saran yang membangun sehingga saya dapat memperbaikai pembuatan maklalah selanjutnya yang lebih baik terima kasih.


                                                         



DAFTAR KEPUSTAKAAN

Aziz, Arsyad. 2003. Media Pembelajaran.  Jakarta: PT. Persada.
Malibary, Akrom, dkk. 1976. Pedoman pengajaran bahasa arab pada perguruan tinggi agama islam.  Jakarta: DEPAG RI.
Sudiman, Arief S, , dkk.2003. Media pendidikan pengertian, pengembangan dan pemanfaatannya. Jakarta: Raja Grafindo.
Syukur, Fatah. 2008.  teknologi Pendidikan. Semarang: Rasail.
Usman, Asnawir Basyirudin. 2002. Media Pembelajaran. Jakarta: Ciputat Pers.


[1] Arsyad Aziz, Media Pembelajaran, ( Jakarta: PT. Persada, 2003), hlm. 1.
[2] Asnawir Basyirudin Usman, Media Pembelajaran, ( Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hlm. 83.
[3] Ibid, hlm. 33.
[4] Fatah Syukur, teknologi Pendidikan, ( semarang: Rasail, 2008), hlm. 120.
[5] Akrom Malibary, dkk. Pedoman pengajaran bahasa arab pada perguruan tinggi agama islam, ( Jakarta: DEPAG RI, 1976), hlm. 192.
[6] Ibid,hlm. 196.
[7] Ibid, hlm. 199.
[8] Ibid, hlm. 200.
[9] Arief S, Sudiman, dkk. Media pendidikan pengertian, pengembangan dan pmenafaatannya, ( Jakarta: Raja Grafindo, 2003), hlm. 28.
[10] Ibid, hlm. 105.

Kamis, 17 Juni 2010